Pasangan yang telah menikah pasti memiliki keinginan untuk mempunyai keturunan. Biasanya mereka pun membuat program untuk cepat memiliki anak. Sayangnya tak semua bisa dengan mudah mendapatkan buah hati.
Kurang lebih 10-15 persen dari pasangan usia subur mengalami masalah infertilitas atau ketidaksuburan. Menurut Dr. Indra NC Anwar, SpOG dari Klinik Fertilitas Teratai RS Gading Pluit, seseorang dinyatakan infertil atau kurang subur jika dalam satu tahun pernikahan dengan hubungan suami-istri usia produktif (dibawah 35 tahun) secara teratur tanpa alat kontrasepsi, tetapi belum hamil juga.
Perempuan seringkali menunda usia perkawinan demi alasan mengejar karir. Padahal hal tersebut menjadi salah satu penyebab sulitnya pasutri mendapatkan momongan. Hal itu dikarenakan masa kesuburan seorang perempuan akan menurun sesuai dengan bertambahnya usia. Mulai usia 35 tahun ke atas, kesuburan akan menurun dan akan terus menurun secara drastis pada usia di atas 37 tahun, hingga akhirnya masuk ke masa menopause di atas 40-45 tahunan.
”Hal itu terjadi karena cadangan sel telur akan terus berkurang setiap wanita mengalami menstruasi dan lama kelamaan akan habis sehingga terjadilah masa menopause, dimana ovarium atau indung telur berhenti mengeluarkan sel telur,” ujar Dr. Indra.
Pada laki-laki, usia tidak berhubungan dengan tingkat kesuburan karena pria memiliki ”pabrik” sperma. Pabrik tersebut akan terus memproduksi sperma setiap hari di testis selama anatominya normal.
Faktor Penyebab Infertilitas
Berdasarkan data yang diperoleh oleh Dr. Irsal Yan, Sp.OG dari Klinik Fertilitas Teratai RS Gading Pluit, infertilitas dapat terjadi karena tiga faktor, yaitu faktor istri, faktor suami dan faktor tidak terjelaskan.
Infertilitas karena faktor istri mancakup 45%, meliputi masalah pada saluran telur, ovulasi, peritoneum atau endometriosis, mulut rahim, rahim dan disfungsi seksual. Infertilitas karena faktor suami yaitu 40%, meliputi kelainan pengeluaran sperma, kelainan produksi dan pematangan sperma, penyumbatan saluran mani karena infeksi atau bawaan, faktor imunologik atau antibodi anti sperma, serta faktor gizi. Faktor tidak terjelaskan 10-15% dikarenakan infertilitas memiliki masalah yang kompleks, juga dapat disebabkan karena adanya faktor psikologi dan budaya.
Selain itu, ternyata gaya hidup pun mempunyai peran dalam menambah angka kejadian infertilitas, yaitu sebesar 15-20%. Gaya hidup yang serba cepat dan kompetitif rentan membuat seseorang terkena strees. Kondisi jiwa yang stres dapat menyebabkan gangguan ovulasi, spermatogenesis, sperma tuba falopi dan disfungsi seksual seperti penurunan frekuensi hubungan suami-istri.
Faktor kesehatan dan gaya hidup lainnya adalah terlalu gemuk yang dipengaruhi oleh makanan, terlalu kurus karena diet berlebihan sehingga terjadinya anorexia, merokok, mengkonsumsi kafein, alkohol dan obat-obatan tertentu.
Konsumsi alkohol pada permpuan misalnya akan menekan produksi hormon estrogen dan progesteron serta meningkatkan prolaktin. Hal itu akan menghambat terjadinya proses ovulasi. Pada pria, alkohol akan menyebabkan penurunan ukuran testis, menurunkan volume air mani dan menurunkan konsentrasi, motilitas serta morfologi normal dari spermatozoa.
Pemakaian ganja, kokain dan heroin pada perempuan disinyalir menyebabkan gangguan sekresi gonadotropin dan prolaktin yang berujung pada terhambatnya ovulasi. Pengaruh obat-obatan tersebut secara umum pada kesuburan pria adalah menekan sekresi gonadotropin yang berujung pada menurunnya biosintesa testosteron dengan kualitas dan kuantitas testosteron yang menurun, yang pada akhirnya akan menurunkan kualitas sperma.
Pada perempuan juga sebaiknya jangan melakukan olahraga yang berlebihan, seperti olahraga yang terlalu berat dan memakan waktu yang lama. Hal itu dikarenakan dapat mengganggu siklus haid berupa pemendekan siklus luteal dan amenorhea sekunder. Meski mekanismenya masih belum jelas mengapa olahraga berlebihan membuat wanita sulit hamil, namun diduga karena punurunan produksi gonadotropin, peningkatan produksi endorfin dan kortisol.
Penangangan Infertilitas
Menurut Dr. Irsal, untuk mengatasi masalah infertilitas ada beberapa hal yang harus dilakukan pasutri. Salah satunya adalah memeriksakan diri ke dokter. Jika penyebab infertilitas telah diketahui, segera lakukan pengobatan atau tindakan yang disarankan dokter. Penanganan pada pasangan merupakan satu kesatuan yang paling baik dalam mengatasi masalah infertilitas.
Pada prinsipnya penanganan infertilitas ada dua macam, yaitu dengan pengobatan konvensional atau dengan teknologi reproduksi. Pengobatan konvensional antara lain dengan pemberian obat-obatan untuk tujuan menghilangkan faktor penyebab, memicu produksi sperma, memperbaiki pematangan sperma, memperbaiki tranpor sel dan mencegah kerusakan sel sperma.
Untuk gangguan kesuburan akibat kerusakan atau kelainan antomi di saluran telur dapat ditangani dengan operasi dan menunggu dalam jangka waktu 18 – 24 bulan. Jika gagal, maka dapat dicoba dengan teknik reproduksi bantuan melalui inseminasi atau bayi tabung.
Bayi tabung disarankan untuk infertilitas yang tidak diketahui penyebabnya dan telah ditangani lebih dari satu tahun. Untuk mendapatkan momongan dengan bayi tabung, tidak perlu lagi berobat ke luar negeri, karena di Indonesia sudah terdapat sejumlah klinik yang menangani masalah kesuburan dengann tingkat kesuksesan nasional mencapai rata-rata 30 persen.
Menurut Dr. Indra, faktor pendukung yang membuat keberhasilan dari program bayi tabung antara lain faktor usia istri. Semakin muda usia istri, maka semakin besar kemungkinan keberhasilannya, karena kemampuan perempuan untuk hamil paling tinggi pada usia 24 tahun. Kemudian menurun pada usia 25 tahun dan menurun drastis pada usia 35 tahun.
”Penurunan itu disebabkan karena berkurangnya jumlah dan kualitas sel telur di dalam indung telur terkait dengan pertambahan usia yang akan mempengaruhi kesuburan dan meningkatkan risiko pada janin,” ujarnya seraya menambahkan perempuan yang sebelumnya pernah hamil juga memperbesar kemungkinan keberhasilan bayi tabung.
Program Bayi Tabung
Salah satu klinik di Jakarta, saat ini memiliki program bayi tabung dengan dua metode, yaitu In Vitro Fertilization (IVF) dan Intra Cytoplasmic Sperm Injection (ICSI). IVF adalah suatu teknik reproduksi berbantu dengan mempertemukan satu sel telur (oosit) matang dari istri dengan 50.000 – 100.000 spermatozoa yang bergerak progresif dari suami di luar tubuh manusia agar terjadi fertilisasi atau pembuahan.
Dr. Indra mengatakan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu siklus pengobatan IVF, yaitu faktor spesifik pasien, protokol stimulasi ovarium, laboratorium embriologi, jumlah embrio pertransfer, teknik transfer embrio, penunjang fase luteal, konsisten dan kemurnian obat serta didukung oleh dokter yang berpengalaman.
ICSI merupakan teknik reproduksi berbantu dengan cara menyuntikkan satu spermatozoa langsung ke dalam sitoplasma oosit agar dapat terjadi fertilisasi atau pembuahan.
DeppyDepz
Tidak ada komentar:
Posting Komentar